"We are not professional film critics. We just want to enjoy and to give our opinions about movies. If you have different opinion from us, we would be very happy. Because it shows that we live in a very complex society, with many different thoughts, opinions, and taste. So the movie makers will be challenged to always satisfy their audiences and they will make more and more great movies of all times..."

- Ode & Yanti -

Monday, 23 July 2012

The Dark Knight Rises (2012)




Genre: Action, Adventure, Crime, Thriller
MPAA: Rated PG-13 for intense sequences of violence and action, some sensuality and language (13 tahun keatas)
Company: Warner Bros. Pictures
Director: Christopher Nolan
Casts:  Christian Bale, Gary Oldman, Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt, Anne Hathaway, Marion Cotillard, Michael Caine, Morgan Freeman
Runtime: 164 min
Recommendations: 9/10

"The Legend Ends"

Setelah terpukau, terkagum-kagum oleh film The Dark Knight beberapa tahun yang lalu, film The Dark Knight Rises jelas menjadi pilihan pertama untuk ditonton saat filmnya rilis. Beruntung istri saya juga termasuk ke dalam golongan yang terpukau oleh film The Dark Knight, sehingga tidak sulit membujuk agar bisa menontonnya di hari pertama pemutarannya.

Christopher Nolan memberikan warna yang berbeda bagi tokoh superhero dari DC Comics ini. Kesan kelam yang kental dalam komiknya berhasil dihadirkan oleh Nolan. Tidak seperti film batman sebelum Nolan, berusaha membuat kekelaman tetapi hasilnya bukanlah kelam, hanya film superhero yang banyak adegannya dilakukan di tempat gelap. Pemilihan Christian Bale sebagai Batman juga saya nilai tepat. Bale cocok menggambarkan seorang milyuner muda yang tampan dan pintar. Selain itu, proporsi otot di tubuh Bale juga menambah kecocokan dirinya memerankan Sang Kesatria Kegelapan.

Seperti biasa saat memasuki ruang teater, saya melepaskan semua kekaguman saya terhadap The Dark Knight yang saya anggap mendekati sempurna, supaya saya bisa menikmati The Dark Knight Rises tanpa ada ekspektasi yang berlebihan akibat prekuelnya. Hasilnya, saya mendapatkan pengalaman baru menonton sebuah film yang kembali mendekati sempurna. Ya, seri terakhir dari trilogi Batman versi Nolan ini dikemas dengan sangat baik sehingga saya sendiri ragu akan ada banyak nada sumbang mengenai film ini.

Cerita disuguhkan dengan baik, tidak terkesan terburu-buru, tidak juga terkesan bertele-tele. Efek visual dalam adegan laga disajikan dengan nyaris sempurna. Kerumitan cerita khas Christopher Nolan juga disajikan dengan apik, sehingga memainkan emosi penonton dengan baik, tapi tidak juga terlalu rumit bagi “penonton biasa” yang lebih senang dengan film ringan.


Christian Bale
Tom Hardy
Christopher Nolan

Rombongan pemeran diisi oleh nama-nama yang mungkin sudah sangat familiar di telinga anda. Selain tokoh-tokoh utama yang muncul di Batman Begins dan The Dark Knight seperti Christian Bale (Bruce Wayne/Batman), Gary Oldman (Commisioner Gordon), Morgan Freeman (Lucius Fox) dan Michael Caine (Alfred), terdapat nama-nama Tom Hardy (Bane) yang berperan apik dalam The Warriors, Marion Cotillard (Miranda Tate) pemenang Oscar dalam perannya di La Vie en Rose, Anne Hathaway (Selina Kyle/Catwoman) wanita cantik yang dikenal lewat Enchanted, serta Joseph Gordon-Levitt (Blake) yang dikenal lewat Inception. 
Anne Hathaway

Joseph Gordon-Levitt



Marion Cotillard
Saya tidak mau menulis jalan cerita dari film ini, karena menurut saya lebih baik jika tidak diberitahu, sehingga kejutan-kejutan yang diberikan Nolan kepada penonton akan lebih terasa.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk anda tonton, terlepas anda penggemar tokoh Batman atau tidak, karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa film ini nyaris sempurna. Satu-satunya yang mengganggu saya adalah suara dari Bane yang tidak cocok menurut saya. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Segera ke bioskop favorit anda dan tonton film terbaik musim panas ini.

Wednesday, 4 July 2012

The Amazing Spiderman (2012)


Genre: Action, Adventure, Fantasy
MPAA: Rated PG-13 for sequences of action and violence
Company: Columbia Pictures
Director: Marc Webb
Casts:  Andrew Garfield, Emma Stone, Rhys Ifans, Martin Sheen
Runtime: 136 min
Recommendations: 8/10

"His past was kept from him. His search for answers has just begun."

The word “Amazing” on the title suits the movie very well. Satu kata yang keluar dari mulut saya setelah menyaksikan versi 3D film ini di bioskop adalah “amazing”. Sebuah film yang berbeda dengan versi sutradara Sam Raimi, karakter Peter Parker yang berbeda dengan yang diperankan oleh Tobey Maguire. Tokoh Peter Parker dalam film ini diperankan dengan baik oleh Andrew Garfield (dikenal dalam film The Social Network sebagai Eduardo Saverin, co-founder Facebook).

The Amazing Spiderman (tAS) adalah film Spiderman yang di re-boot setelah sebelumnya beredar tiga film tentang jagoan laba-laba ini. Karena re-boot, maka cerita dari tAS ini kembali ke saat dimana Peter Parker mendapatkan kemampuannya.

Berpegang pada cerita di dalam komik, tAS menampilkan Gwen Stacy (Emma Stone)sebagai pacar dari Peter Parker. Jaring laba-laba yang dikeluarkan Spiderman juga berasal dari alat pelempar jaring buatan Peter Parker, mirip dengan komiknya. Mungkin hal yang berbeda dengan komiknya adalah bagaimana George Stacy menentang keberadaan Spiderman sebagai pahlawan dan bagaimana Peter Parker membocorkan identitasnya sebagai Spiderman kepada Gwen Stacy. Di komik, George Stacy sangat mendukung keberadaan Spiderman dan Peter Parker tidak pernah memberitahu identitas rahasianya kepada Gwen Stacy.
Andrew Garfield as Peter Parker
Emma Stone as Gwen Stacy
Marc Webb (Director)
 
Sama dengan film Spiderman yang pertama, tAS menampilkan adegan2 kunci di awal cerita kemunculan Spiderman, seperti adegan tergigit laba-laba hasil mutasi genetik dan adegan terbunuhnya Ben Parker (Martin Sheen) oleh perampok yang memicu tindakan vigilante dari seorang Peter Parker.

Untuk Villain alias tokoh jahat di film ini, terpilih tokoh Dr. Curt Connors yang bertransformasi menjadi the Lizard, manusia reptil dengan kekuatan, kecepatan dan kepintaran diatas rata-rata. Bagaimana Dr. Connors berubah menjadi the Lizard diceritakan dengan baik dalam film ini, dan dikemas dengan cukup baik sehingga penonton tidak bosan karena adanya penggambaran perubahan dua tokoh dalam satu film yang biasanya antara terlalu bertele-tele atau terlalu cepat.

Sebagai penggemar film superhero, sebelum memasuki gedung bioskop saya sudah merubah pola pikir saya. Karena saya sudah menonton film Spiderman versi Sam Raimi saya mengambil kesimpulan bahwa saya tidak akan bisa menikmati film ini kalau saya tidak bisa melupakan film versi Raimi, oleh karena itu sebelum masuk bioskop saya sudah melupakan film versi Raimi dan hanya berpegang pada pengetahuan saya tentang Spiderman berdasarkan komiknya. Hasilnya saya bisa menikmati film tanpa harus membandingkan dengan versi sebelumnya, tanpa harus kecewa karena adegan kuncinya berbeda dengan versi sebelumnya, etc. 

Overall, menurut saya film ini bagus. Jika harus, dan hanya jika harus, membandingkan dengan versi Sam Raimi, film arahan sutradara Marc Webb ini sedikit lebih baik dibandingkan versi Raimi. Dimana kelebihannya? Menurut saya ada di pengaturan emosi dan tempo cerita yang baik, akting brillian Andrew Garfield dan pengambilan gambar yang baik (mengingat adegan berayunnya spiderman tidak semuanya hasil CGI). Saran saya sih, nikmati saja filmnya baru setelah itu membandingkan, jangan sampai sambil nonton anda sudah membandingkan, yang ada nanti tidak ada kata “amazing” keluar dari mulut anda ;). Selamat menonton, enjoy the movie.

Thursday, 23 February 2012

Super 8 (2011)


Genre: Mistery, Science Fiction, Thriller
MPAA: Rated PG-13 for intense sequences of sci-fi action and violence, language and some drug use
Company: Paramount Pictures
Director: J. J. Abrams
Casts:  Kyle Chandler, Elle Fanning, Joel Courtney, Noah Emmerich
Runtime: 112 min
Recommendations: 6/10


"It Arrives"

Apa jadinya jika 8 remaja yang memiliki kekuatan super bersatu membasmi kejahatan di dunia ini? Sepertinya menarik ya? Sayangnya, film besutan J.J. Abrams ini tidak menceritakan hal seperti itu. Judul yang disajikan mungkin membuat orang pertama kali menerka bahwa film ini bercerita tentang orang dengan kekuatan super. Jika anda berpikir seperti itu, maka seperti saya, anda telah tertipu :)

Super 8 bercerita tentang lima remaja di sebuah kota kecil yang sedang membuat film tentang zombie. Sebuah kejadian luar biasa di saat mereka sedang mengambil adegan, membawa mereka ke dalam sebuah misteri yang melibatkan Angkatan Udara Amerika Serikat. Misteri yang mengakibatkan hilangnya beberapa orang dan juga barang-barang mereka. Sambil terus berusaha menyelesaikan film mereka, ditambah beberapa konflik kecil, mereka berhasil memecahkan misteri yang menerpa kota kecil tempat mereka tinggal.

Diperankan dengan baik oleh beberapa bintang berbakat seperti Joel Courtney (sebagai Joe Lamb), Elle Fanning (Alice Daynard), Riley Griffiths (Charles Kaznyk), Ryan Lee (Cary) dan Zach Mills (Preston), film fiksi ilimiah ini menjadi tontonan yang menghibur. Ada sedikit action dan thriller di dalam film ini. Ceritanya tidak ringan, tapi juga tidak berat. Tidak ada permainan emosi yang ekstrim, selain beberapa adegan menegangkan film ini terbilang cukup datar walaupun tidak juga bisa dibilang membosankan. Bolehlah anda menjadikan film ini sebagai hiburan di akhir pekan.

6/10

Tuesday, 21 February 2012

Source Code (2011)



Genre: Mistery, Science Fiction, Thriller
MPAA: Rated PG-13 for some violence including disturbing images, and for language
Company: Vendome Pictures
Director: Duncan Jones
Casts:  Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga
Runtime: 93 min
Recommendations: 7/10


"Make every second count"

Apa yang akan anda lakukan jika anda dapat kembali ke masa lalu selama beberapa waktu saja? Apakah anda akan berusaha melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan seorang atau bahkan menyelamatkan dunia? Atau akankah anda hanya ingin melakukan sesuatu yang selama ini belum sempat anda lakukan?

Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) terbangun di dalam sebuah kereta, duduk dihadapan wanita cantik bernama Christina Warren (Michelle Monaghan) yang sama sekali tidak dikenalnya. Christina terus menerus mengajaknya mengobrol disaat Colter masih dalam keadaan bingung, karena hal terakhir yang diingatnya adalah dirinya sedang menerbangkan helikopter dalam tugasnya sebagai tentara Amerika Serikat di Afghanistan. Kebingungan semakin bertambah karena Christina terus menerus memanggilnya dengan nama Sean. Beberapa menit berlalu, saat masih dalam kebingungan, tiba-tiba saja kereta meledak.

Kapten Colter Stevens kemudian terbangun di dalam sebuah ruangan, dimana ia terikat pada sebuah kursi. Masih belum bisa bernafas dengan tenang akibat apa yang baru saja dialaminya, sebuah suara mengajaknya berkomunikasi. Suara yang berasal dari Kapten Goodwin (Vera Farmiga), menanyakan beberapa hal yang tidak dimengerti oleh Colter. Pada saat yang sama, Colter pun menghujani Kapten Goodwin dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin diketahui jawabannya oleh Colter. Setelah berdialog selama beberapa saat, sekejap kemudian Colter kembali berada di dalam kereta, kembali berada di hadapan Christina, dan kembali mengalami kejadian yang kurang lebih sama.

Mengapa Colter bisa berada dalam situasi tersebut? Akan lebih baik jika anda dengan tekun menyaksikan film ini, dan membuat kesimpulan sendiri akan inti cerita dari film ini.

Jika anda pernah menonton Inception, secara sekilas film ini akan mengingatkan anda tentang Inception. Namun tentu saja dari inti cerita dan kualitas keseluruhan dari film ini tidaklah sama. Kemiripan film ini dengan Inception adalah pada saat anda selesai menontonnya, akan tercipta berbagai pendapat yang berbeda tentang apa itu Source Code, sehingga untuk benar-benar memahami inti dari Source Code anda mungkin harus menonton film ini untuk yang kedua kali, atau mungkin lebih.

Kualitas akting ketiga pemeran utama film ini (Gyllenhaal, Monaghan dan Farmiga) menurut saya cukup baik. Saya tidak menyenangi akting yang disajikan Jake Gyllenhaal dalam Prince of Persia : The Sands of Time, tapi saya menyukai kualitas aktingnya dalam Brothers, untungnya kualitas akting yang kurang lebih sama diperlihatkan dalam film ini. Efek visual yang diberikan nyaris sempurna, hal ini diakibatkan karena pada adegan Colter melompat dari kereta terlihat sedikit kasar. Jika saja adegan tersebut dapat dibuat lebih baik lagi, maka secara efek visual film ini menjadi sempurna.

Untuk peminat film yang membutuhkan sedikit berpikir dalam mencerna apa yang disajikan, film ini layak mendapat tempat tersendiri dalam katalog koleksi film anda.

7/10

Sunday, 19 February 2012

Moneyball (2011)


Foto diambil dari sini
Genre: Drama, Sport, Biography
MPAA: Rated PG-13 for some strong language
Company: Columbia Pictures
Director: Bennett Miller
Casts:  Brad Pitt, Robin Wright and Jonah Hill
Runtime: 133 min
Recommendations: 4 of 5 stars (Roger Ebert)


Pada musim pertandingan Baseball 2002, sebuah tim yang memiliki budget terendah dalam Baseball Liga Mayor (MLB) membuat rekor baru Liga Amerika dengan berhasil meraih 20 kemenangan berturut-turut. Padahal tim tersebut memulai musim dengan 11 kekalahan berturut-turut. Apa yang terjadi di antaranya adalah cerita  dari "Moneyball", sebuah film yang cerdas, intens dan "menggerakkan", yang bercerita tidak hanya mengenai olah raga semata, namun juga peperangan antara intuisi dan statistik.

Fokus film ini adalah pada karakter General Manager Oakland Athletics, Billy Beane (Brad Pitt), seorang pemain MLB yang kurang berhasil, pindah ke kursi manajemen dan didorong oleh rasa benci terhadap kekalahan. Pada musim sebelumnya, ia membawa tim Athletics menuju World Series, hanya untuk menerima kekalahan dan melihat tiga pemain terbaiknya pergi karena disewa oleh tim yang lebih kaya dan  memberikan gaji jauh lebih besar.

Dihadapi dengan kenyataan bahwa ia harus kembali membangun timnya dengan harga murah, Beane terbujuk oleh teori yang dicetuskan Peter Brand (Jonah Hill), seorang kutu buku lulusan pascasarjana Universitas Yale yang bergulat dengan angka dan berhasil menyajikan analisis pemain baseball yang memiliki potensi sangat besar namun dengan biaya yang sangat murah. Brand membujuk Beane bahwa ia harus menyewa pemain berdasarkan statistik kinerja yang hasilnya ternyata menunjuk kepada para pemain yang diremehkan. Bersama, mereka membentuk tim yang pada awalnya tampak bodoh, tetapi selama musim penuh perjuangan tersebut, mereka berhasil membuktikan diri melalui jual beli terbesar di dunia baseball.

Moneyball bukanlah sebuah film olah raga klasik, yang juga menarik untuk para penonton non-penggemar olah raga sekalipun. Ini bukan film dengan serangkaian pertandingan besar. Ketika menampilkan adegan-adegan di lapangan, itu hanya untuk menampilkan momen-momen penting dan pilihan. Esensi dari film ini adalah pada dialog-dialognya yang cerdas dan singkat.

Ini adalah benar-benar film tentang bisnis. Tak satu pun dari para pemain baseball yang memiliki peran utama. Seluruh drama terjadi di dalam pikiran seorang General Manager dan tangan kanannya. Mereka bertaruh antara tradisi dan analisis numerik. Angka-angka menunjukkan bahwa komputer ternyata dapat merancang sebuah tim yang lebih baik dari naluri manusia.

Hal tersebut sungguh melankolis, namun ini memang sebuah film yang melankolis. Terdapat adegan yang cukup mengguncang batin di mana Brad Pitt berdialog dengan Jonah Hill, apa arti dari semua ini? Kemenangan yang dicapai 20 kali berturut-turut tidak ada artinya. Karena yang paling penting adalah menjadi juara di musim tersebut. Juga terdapat saat-saat dramatis ketika pemain diperdagangkan atau dipindahkan ke liga minor. Baseball adalah bisnis. Hanya para penggemarlah yang betul-betul menyukainya sebagai permainan.

Monday, 13 February 2012

Dexter (TV Series 2006 - )

Foto diambil dari sini.
Genre: Crime/Gangster, Drama
MPAA: R for Sex and Nudity, Violence and Gore, Profanity, Alcohol/Drugs/Smoking, Frightening/Intense Scenes
Company: Showtime Networks 
Cast: Michael C. Hall, Jennifer Carpenter, James Remar and Lauren VĂ©lez
Runtime: 60 mins
Recommendations: 9,1/10 (IMDB)

DEXTER. Film seri yang ditayangkan di salah satu channel televisi berbayar sejak enam tahun lalu tersebut, mengambil judul dari nama tokoh utamanya. Dexter Morgan (Michael C. Hall), adalah seorang pembunuh berantai. Tidak hanya membunuh, namun ia juga memutilasi korbannya. Ia melakukan aktivitasnya tersebut secara rutin, selama bertahun-tahun, tanpa sedikit pun tercium oleh kepolisian Miami, tempat ia bermukim sejak kecil.

Sampai di titik ini, mungkin Anda berfikir, "Oke, film ini bercerita tentang seorang psikopat yang kejam, dan pada akhirnya seperti di film-film lain, cepat atau lambat akhirnya ia akan tertangkap. Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Selesai." 

Maaf, tapi pendapat tersebut (kali ini) kurang tepat. Selain seorang psikopat, ternyata Dexter adalah staf ahli laboratorium yang tergabung dalam tim forensik bagian pembunuhan di Miami Metro Police Department. Tepatnya, ia adalah ahli menganalisa cipratan darah (blood spatter). Dalam setiap penyelidikan kasus pembunuhan, dengan mudahnya Dexter dapat menganalisa dan merekonstruksikan kronologis kejadiannya, senjata yang digunakan, hingga ciri-ciri fisik si pembunuh (tinggi, berat, dll), hanya dari analisa cipratan darah yang terdapat pada lokasi kejahatan tersebut. Hal tersebut mudah saja bagi Dexter, karena ia menyukai darah. Darah adalah hidupnya.

Dexter dapat terus memenuhi dorongan untuk membunuh dan lolos selama bertahun-tahun dari radar polisi, berkat bimbingan dan nasihat dari almarhum ayah angkatnya, Harry Morgan (James Remar), yang semasa hidupnya dulu juga seorang polisi. Harry mengetahui "hasrat terpendam" yang dimiliki Dexter sejak ia masih kecil. Karena ia sangat menyayangi Dexter, dan yakin bahwa dengan membawa Dexter ke psikiater atau rumah sakit tidak akan menyelesaikan masalah kejiwaannya, ia pun mengajarkan sebuah prinsip, yang sering disebut oleh Dexter: Harry's Code.

Dalam prinsip tersebut, Harry mengajarkan bahwa untuk dapat mempertahankan hidup dan selamat dari pihak yang berwajib, Dexter tidak boleh sembarangan membunuh orang. Dexter hanya boleh membunuh orang-orang yang pantas untuk dibunuh. Orang-orang yang pantas untuk dibunuh itu adalah orang-orang yang sama seperti Dexter: seorang pembunuh, terutama yang tidak tertangkap oleh polisi, atau sudah tertangkap namun tidak ada bukti kuat, sehingga mereka dibebaskan kembali. Selain itu, Harry juga mengajarkan bagaimana agar dalam memenuhi hasrat membunuhnya, Dexter tidak boleh meninggalkan secuil pun bukti yang bisa ditemukan oleh polisi. Dexter diajarkan bagaimana caranya menghilangkan barang bukti di lokasi kejahatannya dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Pada awalnya, Anda mungkin akan merasa jijik atau menonton dengan dahi mengernyit, karena film ini sarat dengan adegan kekerasan, pembunuhan, apalagi dengan adanya potongan-potongan tubuh. Namun di balik itu, Anda akan terhanyut dengan akting Dexter, di mana hampir sebagian besar waktunya harus ia lewatkan dengan berpura-pura menjadi "orang biasa", yang harus berbaur dengan masyarakat, dengan rekan-rekannya di kepolisian, dengan pacarnya, hingga dengan adik angkatnya, Debra Morgan (Jennifer Carpenter), yang mengikuti jejak ayahnya menjadi polisi.

Anda akan diyakinkan bahwa Dexter, meskipun ia adalah seorang psikopat, namun ia juga seorang manusia yang hanya berusaha memenuhi hasrat terpendamnya. Bahkan kemungkinan besar Anda akan sampai pada satu titik, di mana Anda benar-benar merasa kasihan dan berpihak pada Dexter, dan tidak ingin dia tertangkap oleh polisi.

Tidak heran di Amerika, film seri yang sudah menyelesaikan 6 musim ini memiliki julukan: "America's Favourite Serial Killer".

Bagaimana? Anda "berani" menonton Dexter?

Monday, 30 January 2012

Warrior (2011)

Genre: Action, Drama
MPAA: Rated PG-13 for sequences of intense mixed martial arts fighting, some language and thematic material
Company: Lionsgate
Director: Gavin O'Connor
Casts:  Tom Hardy, Nick Nolte, Joel Edgerton
Runtime: 140 min
Recommendations: 8.3/10 (IMDB)


Semenjak peristiwa "terhambatnya" asupan film-film Hollywood ke Indonesia tahun 2011 lalu, saya merasa rindu dan "haus" akan film-film berkualitas tinggi. Bukannya mengecilkan kualitas film Indonesia. Tapi kenyataannya, memang (menurut saya) film-film Indonesia yang berkualitas baik hanya masih segelintir, bisa dihitung dengan jari. Makanya, karena peristiwa di atas juga, saya sendiri menjadi kurang update dengan keberadaan film-film Hollywood (yang bagus). Jadi mohon maaf kalau film yang akan saya review di bawah ini adalah film yang bisa dibilang tidak baru, tapi menurut saya, sangat bagus.

Film WARRIOR bercerita seorang mantan Marinir yang dihantui oleh masa lalu yang tragis, Tommy Riordan/Tommy Collon (Tom Hardy), kembali ke kampung halamannya di Pittsburgh dan meminta Paddy Collon (Nick Nolte), ayahnya yang juga seorang mantan alkoholik dan mantan pelatih MMA, untuk melatihnya menghadapi turnamen MMA yang berhadiah uang tunai terbesar dalam sejarah olah raga tersebut. Di lain pihak, Brendan Collon (Joel Edgerton), kakak Tommy yang juga seorang mantan petarung MMA, tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dari penghasilan guru sekolah negeri, terpaksa kembali ke arena MMA untuk menambah menambah pemasukannya. Selama bertahun-tahun, ternyata sudah terdapat luka mendalam antara ayah dan dua bersaudara tersebut. Dengan membawa misinya masing-masing, Tommy dan Brendan mengikuti turnamen MMA terbesar dalam sejarah, yang membawa mereka saling berhadapan dalam pertempuran terbesar dalam sejarah hidup mereka.


Film ini tergolong film yang menampilkan dua sisi yang berlawanan, namun dua sisi tersebut sama-sama protagonis. Tidak ada pihak antagonis yang sejak awal memang diset untuk menjadi musuh semua orang. Menurut Anda film ini akan "basi" tanpa karakter antagonis? Mohon maaf, kali ini pendapat itu sangat kurang tepat. Karena dua pihak sama-sama protagonis, Anda pasti akan dibuat bingung, Anda harus mendukung sisi yang mana? Karena mereka berdua memiliki tujuan yang sama, bertarung untuk mendapatkan hadiah uang demi mempertahankan hidup, dan yang terpenting, berjuang demi sesuatu yang mereka junjung tinggi: keluarga dan negara.


Perjuangan Brendan mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya, dan gambaran jiwa Tommy yang penuh kekecewaan terhadap Brendan, sangat terlihat jelas dalam akting mereka. Film ini banyak menghadirkan adegan-adegan hening tanpa latar musik, yang membuat penonton dapat betul-betul mencerna dan ikut merasakan kecamuk yang terjadi di antara dua bersaudara tersebut.


Ini adalah film perkelahian yang langka, di mana kita tidak ingin ada pihak yang kalah.


"You ain't no brother to me. My brother was in the Corps." - Tommy Collon

Saturday, 28 January 2012

Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)


Genre: Action, Adventure, Thriller
MPAA: Rated PG-13 for sequences of intense action and violence
Company: Paramount Pictures
Director: Brad Bird
Casts: Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg
Runtime: 133 min
Recommendations: 7/10 (Ebert)

Ethan Hunt (Tom Cruise) dan timnya berlomba melawan waktu untuk melacak teroris berbahaya bernama Hendricks, yang telah memperoleh kode akses untuk peluncuran senjata nuklir Rusia, yang rencananya akan digunakan untuk menyerang Amerika Serikat. Upaya yang dilakukan oleh tim tersebut di Kremlin untuk menghentikan Hendricks akhirnya menjadi sebuah bencana. Terjadi ledakan yang menyebabkan kerusakan yang amat parah di Kremlin. IMF yang menjadi pihak yang disalahkan terhadap kejadian tersebut, memaksa Presiden untuk mengkatifkan Protokol Hantu. Tanpa menyerah, Ethan dan timnya mengejar Hendricks ke Dubai hingga ke Mumbai. Namun kemungkinan besar, mereka tetap akan gagal menghentikan bencana yang akan terjadi.

Akhirnya Paramount Pictures meluncurkan film ke-4 dari rangkaian film Mission: Impossible – Ghost Protocol. Masih dibintangi aktor utama Tom Cruise, film ini menawarkan aksi-aksi menegangkan, terutama bagi Anda pecinta film bergenre Action. Apakah film ini dapat menyuguhkan sesuatu yang baru dan mengejutkan dibandingkan dengan film-film sebelumnya? Ataukah hanya menyajikan permainan efek grafis yang memukau mata penonton saja? Bagaimana menurut Anda?

Thursday, 26 January 2012

Flying Swords of Dragon Gate (2011)


Genre: Action, Adventure
MPAA: Rated PG-13 for sequences of intense action and violence
Company: Beijing Liangzi Group
Director: Hark Tsui
Casts: Jet Li, Siu-Wong Fan, Xun Zhou
Recommendations: 7/10 (IMDB)


Zhao Huai'an (Jet Li) adalah seorang prajurit yang berjuang untuk keadilan melawan rezim korup yang meneror sebuah negara tanpa pemerintahan yang memadai, selama Dinasti Ming. Biro Barat yang menakutkan, yang dipimpin oleh Komandan Huatian Yu (Chen Kun) memiliki misi untuk menemukan Su (Mavis Fan), seorang pelayan istana yang telah dihamili oleh Kaisar, dan kini ia harus dibunuh untuk tetap menjaga garis keturunan. Su akhirnya berhasil ditemukan. Namun sebelum ia sempat dieksekusi, Su diselamatkan oleh seorang prajurit misterius yang mengaku sebagai Zhao Huai'an, yang ternyata ia adalah Lanqiu Ling (Zhou Xun). Komandan Yu kemudian mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk memburu mereka.

Bagi Anda penggemar aktor Jet Li atau penggemar film kolosal Asia, film ini wajib Anda tonton. Film garapan Hark Tsui ini banyak mendapat pujian dari para kritikus film internasional, atas penyajian plot yang dalam, tokoh-tokoh karakter yang kuat, hingga kualitas gambar yang sangat baik.

Tuesday, 24 January 2012

Rise of the Planet of the Apes (2011)

Rise of the Planet of the Apes (2011)


Genre: Action, Drama, Sci-Fi 
MPAA: Rated PG-13 for intense and frightening sequences of action and violence
Company: Twentieth Century Fox 
Director: Rupert Wyatt 
Cast: James Franco, Andy Serkis and Freida Pinto
Runtime: 105 min 
Recommendations: 8.5/10


“Evolution Becomes Revolution”


Sebelum menonton film ini, saya mengharapkan film ini sebagai sekuel atau prekuel dari film Planet of the Apes yang bersetting di luar angkasa. Saya memang belum melihat trailer film ini, atau membaca resensinya, makanya saya tetap beranggapan film ini akan bersetting di luar angkasa. Ternyata saya salah.

Will Rodman (James Franco) adalah seorang ilmuwan yang meneliti obat penyembuh penyakit Alzheimer. Dalam penelitiannya, Will dan timnya menggunakan simpanse untuk mengujikan obat yang mereka ciptakan. Obat tersebut mampu meningkatkan kinerja otak, yang pada akhirnya diharapkan mampu menyembuhkan penyakit alzheimer.

Sebuah kejadian kemudian memaksa Will untuk mengadopsi seekor anak simpanse yang diberi nama Caesar (Andy Serkis). Caesar yang dalam darahnya terdapat obat dari Will karena ibunya merupakan salah satu simpanse percobaan Will dan timnya, memiliki kecerdasan luar biasa. Will dan kekasihnya, Caroline Aranha (Freida Pinto) mengasuh Caesar layaknya anak sendiri.

Suatu hari, karena menyerang tetangga Will yang mengganggu ayah Will, Caesar diharuskan masuk tempat karantina primata. Dengan kecerdasannya, dan kecewa dengan tindakan manusia terhadap primata lain di dalam karantina, Caesar kemudian membebaskan seluruh primata dalam karantina, dan memimpin primata-primata lainnya di luar karantina menuju kebebasan. Bagaimana akhir perjuangan Caesar? Silakan anda saksikan sendiri.

Walaupun saya kecewa karena film ini bukanlah film yang berhubungan dengan Planet of the Apes yang saya ketahui, saya tetap sangat puas menonton film ini. Semua lebih pada kualitas cerita yang luar biasa, sehingga mampu mempengaruhi emosi penonton saat menontonnya. Saran saya, anda wajib menonton film ini dan jangan lepaskan pandangan anda dari layar, setiap adegan sangat berharga. Selamat menonton 

Sunday, 22 January 2012

Trespass (2011)

Trespass (2011)


Genre: Drama, Thriller 
MPAA: Rated R for violence and terror, pervasive language and some brief drug use
Company: Millenium Films 
Director: Joel Schumacer 
Cast: Nicolas Cage, Nicole Kidman and Cam Gigandet
Runtime: 91 min 
Recommendations: 5/10

“When terror is at your door, you can run, or you can fight”


Bayangkan diri anda sebagai seorang yang kaya raya, harta berlimpah, memiliki istri cantik, putri remaja yang menawan, rumah besar dengan keamanan canggih. Lalu bayangkan pada suatu hari rumah anda dimasuki perampok yang mengancam akan membunuh anda dan keluarga anda jika anda tidak memberikan apa yang mereka inginkan, apa yang akan anda lakukan?

Kyle Miller (Nicolas Cage) adalah seorang pialang berlian yang sukses dengan harta berlimpah. Kyle memiliki seorang istri cantik bernama Sarah (Nicole Kidman) dan seorang putri remaja bernama Avery (Liana Liberato). Hidup Kyle dan keluarganya baik-baik saja, hingga suatu hari sekelompok orang datang dan merampok rumah mereka. Berhadapan dengan ancaman akan dibunuh oleh kawanan perampok, Kyle melakukan segala cara untuk menyelamatkan keluarganya. Bagaimana akhir kisah penyanderaan Kyle dan keluarganya? Silakan anda saksikan dalam film thriller yang banyak menggunakan adegan flashback ini. Walaupun film ini cukup ringan dan thrill yang diberikan tidak maksimal, pastikan anda tidak melepaskan mata anda dari layar, karena jika terlewat beberapa adegan flashback, maka anda tidak akan mendapatkan benang merah film ini.

Film thriller yang baik adalah film yang mampu menjaga ketegangan penonton dengan baik. Biasanya penonton akan dibiarkan tegang selama beberapa saat, diberikan beberapa adegan untuk menenangkan diri, kemudian kembali diberikan ketegangan hingga kemudian ketegangan tersebut mencapai puncaknya. Sutradara Joel Schumacer berusaha menjaga ketegangan penonton saat menyaksikan film ini, namun karena tingkat ketegangan yang tingkatnya setara dari awal hingga akhir, alhasil saya merasa bosan dan tidak tegang saat film mencapai setengah jalan. Hal yang membuat saya tetap menonton adalah karena penyajian adegan flashback yang terus membuat saya bertanya-tanya tentang latar belakang kejadian di film, dan rasa penasaran akan apa yang akan dilakukan Kyle dan keluarga untuk lepas dari ancaman.

Duo Nic (Nicolas dan Nicole) memberikan kualitas akting yang baik, begitupun dengan Cam Gigandet yang dalam film ini berperan sebagai salah satu anggota kawanan perampok. Jika film ini dikategorikan sebagai film thriller, maka film ini tidak terlalu baik dengan datarnya ketegangan yang diberikan. Jika dikategorikan sebagai film drama, kompleksnya cerita bisa dianggap cukup baik. Saran saya, tontonlah film ini sebagai hiburan ringan, jangan terlalu berharap jantung anda akan berdebar cepat. Selamat menonton 

Tuesday, 17 January 2012

Restless (2011)

Restless (2011)


Genre: Drama 
MPAA: Rated PG -13 for thematic elements and brief sensuality
Company: Columbia Pictures 
Director: Gus Van Sant 
Cast: Mia Wasikowska, Henry Hopper and Ryo Kase
Runtime: 91 min 
Recommendations: 6/10

“Who do you live for?”


Kematian seseorang yang dikasihi dapat merubah hidup seseorang. Kematian orang terkasih bisa membawa seseorang menjadi lebih baik, namun juga bisa membuat seseorang menjadi tidak baik. Adakalanya diperlukan kejadian tertentu untuk merubah seseorang yang terjebak dalam kegelapan pasca kematian orang terkasih, menjadi perubahan yang positif bagi dirinya. Hal yang sama terjadi pada seorang pemuda bernama Enoch Brae (Henry Hopper).

Kedua orang tua Enoch meninggal karena kecelakaan. Hal ini membuat seorang Enoch yang masih sangat muda menjadi tidak menghargai hidup. Kegiatannya sehari-hari hanyalah melakukan hal yang tidak berarti. Datang ke pemakaman orang yang tidak dikenalnya, bermain-main sepanjang hari, sampai menimpuk kereta yang sedang lewat dengan kerikil. Semua hal tersebut bisa membuat Enoch merasa senang, namun tidak berarti.

Hingga suatu hari Enoch bertemu seorang gadis di sebuah pemakaman. Gadis yang bernama Annabel Cotton (Mia Wasikowska) kemudian mengisi hidup Enoch dengan kegembiraan, sampai suatu saat sebuah rahasia terungkap dan merubah cara pandang Enoch mengenai Hidup. Sebuah film drama yang mengajarkan kita nilai penting dalam kehidupan ini digarap dengan cukup menarik, dengan plot cerita yang ringan namun memiliki pesan tersirat yang bermakna.

Jika sebelumnya kita pernah melihat Mia Wasikowska berakting dalam Alice in Wonderland (Tim Burton), maka akting Mia dalam film ini mengalami sedikit kemajuan. Mia dengan baik menggambarkan karakter gadis muda yang berusaha selalu riang walaupun memiliki beban berat dalam hidupnya. Henry Hopper sendiri yang sebelumnya berperan dalam peran-peran kecil di beberapa film seri menunjukkan kualitas akting yang baik. Tidak ada yang salah dalam pemilihan aktor dan aktris di film ini. Hanya saja plot cerita yang sedikit ringan dapat membuat beberapa penikmat film akan merasa bosan. Untuk saya, film ini cukup menghibur dan sekali lagi, mengajarkan kita tentang nilai hidup jika kita benar mencermati film ini. Selamat menonton 

Sunday, 15 January 2012

The Whistleblower (2010)

The Whistleblower (2010)


Genre: Biography, Drama, Thriller
MPAA: Rated R for disturbing violent content including a brutal sexual assault, graphic nudity and language
Company: Samuel Goldwyn Films
Director: Larysa Kondracki
Cast: Rachel Weisz, Monica Bellucci and Vanessa Redgrave
Runtime:  112 min 
Recommendations: 7/10


“Nothing is more dangerous than the truth”




Human Trafficking atau penjualan manusia untuk hal apapun adalah sesuatu yang tidak berperikemanusiaan. Begitu banyak manusia di dunia ini (khususnya wanita) yang diculik dan kemudian dijual untuk melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan seperti menjadi pelacur. Beberapa bahkan, seperti yang terjadi di negara ini, menimpa gadis di bawah umur.

Film ini bercerita mengenai kisah nyata seorang perwira polisi bernama Kathryn Bolkovac (diperankan dengan baik oleh Rachel Weisz) yang menerima pekerjaan sebagai duta perdamaian PBB di Bosnia pasca perang saudara. Kathryn yang menerima pekerjaan ini karena alasan pribadi, kemudian menemukan fakta mencengangkan tentang human trafficking di Bosnia. Kathryn harus berhadapan dengan birokrasi, kolusi dan penipuan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya itu, Kathryn pun dihadapkan dengan sulitnya mendapatkan keterangan dari para saksi yang memilih untuk menutup mulut mereka demi keselamatan jiwa mereka.

Bagaimana kisah Kathryn membongkar human trafficking di Bosnia? Selengkapnya bisa anda saksikan sendiri, melalui DVD atau (jika masih diputar, mengingat film ini diputar sejak 14 Desember 2011) di jaringan bioskop di Indonesia.

Setelah menonton film ini, kita akan dihadapkan pada fakta mengejutkan bagaimana rumitnya sebuah kasus human trafficking. Rumit untuk kita menemukan pelakunya dan lebih rumit lagi untuk kita bisa menghukum pelaku human trafficking. Acungan jempol pada pihak berwajib jika mereka sukses mengurai kasus-kasus human trafficking di negara ini, karena walaupun film ini diangkat dari kisah nyata seorang warga Amerika, saya yakin kerumitan yang ditemui seorang Kathryn pasti juga ditemui oleh pihak berwajib negara ini.

Anyway, akting Rachel Weisz sangat baik dalam film ini. Emosi yang ditunjukkannya sangat terasa, sehingga saat menontonnya kita pun akan sedikit banyak merasakan emosi yang dialami oleh Kathryn Bolkovac. Nama lain yang dimunculkan oleh pihak pembuat film ini adalah Monica Belucci (terkenal lewat Malena, The Sorcerer’s Apprentice, dll), namun sepertinya nama Belluci hanyalah sebagai pemancing penonton saja, karena lagi-lagi, in my humble opinion, kualitas aktingnya biasa-biasa saja. Mengingat pentingnya pesan yang ingin disampaikan, bagi saya film ini sangat layak ditonton, tapi jangan ajak anak-anak anda karena rating film ini adalah film Dewasa, bukan film semua umur. Selamat menonton 

Thursday, 12 January 2012

Re-Activate

Saya sedang menyusun jadwal supaya bisa mengaktifkan kembali blog resensi film ini. Nantikan yaa :)